Lugas dan Terpercaya
TwitterFacebookGoogle

HLUN Dan Lansia

pimprus

Oleh : Maryam

Pimp. Perusahaan SK. Buser Indonesia

Ketua Umum LSM Goverment Indonesia Watch

Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) setiap tahun selalu diperingati dan mendapat perhatian secara khusus, namun seiring berjalannya waktu, keberadaan lanjut usia masih dianggap merupakan beban dalam keluarga yang pada akhirnya mereka kurang mendapat perhatian bahkan kadang kala kehilangan statusnya.

Alasan di atas cukup dijadikan dasar perlunya upaya serius untuk mengantisipasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan penuaan penduduk. Proses penuaan penduduk akan membawa berbagai implikasi terhadap berbagai aspek perencanaan pembangunan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya

Dewasa ini, lanjut usia (Lansia) menjadi salah satu faktor perhatian, karena masalah lansia bukan hanya menjadi perhatian negara maju tetapi juga negara berkembang seperti Indonesia. proses penuaan ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lansia. Pada tahun 2050 mendatang diproyeksi jumlah Lanjut Usia  mendekati 1,8 milyar (United Nation, 2002). Sedangkan di Indonesia pada tahun 2020 bejumlah 28.822.879. atau 11,20 % dari jumlah penduduk.

Perhatian terhadap lanjut usia perlu dilakukan sedini mungkin, meskipun prosentase penduduk lanjut usia belum mencapai 25 persen sebagaimana terjadi pada Negara-negara maju. Melihat kecenderungan meningkatnya jumlah penduduk Lansia di atas, maka pemerintah perlu melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, standarisasi dan pemberian bimbingan teknis.

Peningkatan pelayanan kesejahteraan sosial tersebut diantarnya adalah mendorong dan memfasilitasi lembaga/ Orsos untuk menyelenggarakan usaha-usaha kesejahteraan sosial dilingkungan keluarga lansia, terutama bagi lansia tidak potensial, penyediaan pelayanan yang dibutuhkan oleh lanjut usia sebagaimana yang diatur dalam Undang–Undang Nomor 13  Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Atensi terhadap para lansia sudah mulai ada, Setidaknya hal tersebut disampaikan Gubernur Ratu Atut Chosiyah saat memberikan sambutannya pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) tingkat Provinsi Banten pada 6 Juni lalu.  Orangtua lanjut usia (lansia) harus diprioritaskan mendapatkan pelayanan publik ketimbang orang muda. Hal itu untuk meringankan beban mereka saat mendapatkan layanan publik.

Hasil pendataan yang pernah dilakukan dibeberapa dusun oleh Yayasan Sri Makmur beberapa waktu lalu, masih banyak lansia PMKS yang statusnya sudah tidak tercatat sebagai warga masyarakat tidak memiliki KTP, bahkan tidak tercatat di dalam kartu keluarga. Jika sudah begini, ketika akan mengurus sesuatu hal, sudah pastikan akan menemui kesulitan.

Semoga beliau-beliau dapat menikmati hari tuanya penuh kebahagiaan yang berarti dan tetap memberikan sumbangsih terhadap pembangunan bangsa dan negara yang kita cintai, karena Lanjut usia telah melalui perjalanan hidup yang panjang serta memiliki pengetahuan, pengalaman yang luas dan kearifan, yang semua itu dapat dimanfaatkan dalam pembangunan nasional.

Amin.

Kriminalisasi, Mental dan Moral Sandal Jepit

agung putro

Oleh : Agung Putro Suhendro

Pemimpin Redaksi

Kebijakan dan wewenang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, baik itu hukum administrasi maupun hukum pidana.

Penanganan masalah berkaitan dengan berbagai wewenang dan kebijakan harus dilakukan seorang pimpinan atau pejabat yang merupakan asset. Dengan kepandaian, kemahiran, kecermatan dan kehati-hatiannya itu agar untuk menghindari disparitas pemidaanaan dan ketidakpastian hukum. Pertanyaannya, apakah benar sesuatu wewenang dan kebijakan memang dapat mengkriminalisasi ?.

Penyalahgunaan wewenang dan kebijakan untuk mengkriminalisasi tentunya pasti dilakukan mereka yang bermental dan bermoral sandal jepit. Mereka melakukannya demi keuntungan dirinya sendiri, orang lain atau kelompok. matanya buta, telinganya tuli dan hatinya busuk. Tak peduli apakah perbuatannya menyakiti dan menimbulkan kerugian orang lain.

Jika pimpinan atau pejabat atau mereka yang terlanjur dianggap asset  itu berbuat dan bertingkah sewenang-wenang dalam menelurkan kewenangan dan kebijakannya tersebut merupakan perbuatan penyalahgunaan wewenang yang tidak menggunakan suatu parameter kebijakannya dari fakta, penilai-an dan perspektif hukum yang ada.

Yang menjadi garis besar dan dasar cara bertindak yang tidak melawan hukum dalam menghadapi atau menangani suatu masalah harusnya menurut kepandaian, kemahiran, kecermatan dan kehati-hatiannya dalam menjalankan wewenang dan kebijakannya yang berparameter pada penilai-an atau evaluasi detil dan konkrit sesuai kebenaran fakta yang bukan pada wilayah abu-abu atau tidak jelas. bahkan ikut-ikutan terlibat dalam konspirasi intrik kewenangan dan kebijakan yang mengkriminalisasi yang bisa dikatagorikan penyalahgunaan wewenang (Detournement De Pouvoir) dan sewenang-wenang (Abus De Droit).

Padahal, diantara mereka ini belum tentu bisa berbuat apa-apa terhadap lingkungan organisasi rumah tangganya, tetapi berlagak layaknya orang yang berwibawa penuh, walau diantara mereka juga ada yang tidak layak dalam berpenampilan tetapi tetap sebagai pemimpin. Mempunya wewengang dan kebijakan, aneh !.

Kriminalisasi atau Criminalization yang dibungkus dan dikemas atasnama kewenangan dan kebijakan adalah menyimpang dan penyalahgunaan wewenang. Seorang pimpinan atau pejabat, untuk mengusahakan agar suatu kebijakan harus menuju sasaran yang tepat berdasarkan kebenaran fakta yang berhati nurani.

Kebijakan dan kewenangan tidak boleh ditujukan untuk sasaran atau tujuan yang tidak baik, atau demi kepentingan lain termasuk kriminalisasi. Baik langsung maupun tidak langsung, sengaja maupun tidak, jika hal ini sudah terjadi, maka jelas penyalahgunaan wewenang dan kebijakan yang sengaja membonceng tujuan-tujuan yang bermaksud mencari keuntungan bagi diri sendiri, orang lain atau kelompok, dengan cara upaya kriminalisasi orang, walaupun orang tersebut notabene bawahannya.

Meskipun kebijakan yang dilakukan tidak melanggar peraturan yang ada sanksi pidananya, namun menggunakan wewenang dan kebijakan yang melekat pada jabatannya secara berlebihan atau menyimpang untuk upaya kriminalisasi tetap adalah penyalahgunaan wewenang yang berada dibalik kebijakan yang buta, tuli, berhati busuk, bermental dan bermoral sandal jepit.

Salam Redaksi

Telur Aneh

telur aneh (1)

Seorang ibu rumah tangga di Medan Fajar, menemukan telur aneh. hal ini diketahuinya ketika Fajar hendak memasak telur tersebut, namu saat memecahkannya dirinya kaget, bukan telur seperti biasa yang didapat, namun didalam telur tersebut ada telur yang sama yang berukuran lebih kecil. Kejadian ini dialaminya pada Minggu (28/9) lalu. (foto Dok : SB/Arif)

Terkait Bobolnya Rekening Nasabah BRI

* Diduga Ada Upaya Kriminalisasi

* Periksa Oknum Yang Terlibat

aw

(Kiri) Surat pengaduan dari PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat no : R.098-KC.II/SDM/07/2014 tertanggal 8 Juli 2014. (Tengah)surat tuduhan PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat nomor ; R.037 KC-II/SDM/03/2014 tertanggal 12 Maret 2014 yang disampaikan kepada Yudi (Paling Kanan) surat Kepolisian Resort Langkat Sumatera Utara Surat tertanggal 8 Agustus 2014, Nomor : K/876/VII/2014/ Reskrim, Kalsifikasi : KONFIDENSIL, Lamp : -Disebutkan si sana, salah satu dasar pemanggilan tersebut adalah rujukan surat laporan masyarakat tertanggal 8 Juli 2014 (Foto Dok : SB/Arif/Agung)

Langkat : Terkait adanya kebocoran dana rekening tabungan nasabah yang diduga dilakukan oleh pegawai kontrak yang bertugas sebagai teller dikantor Unit BRI Sawit Seberang kabupaten Langkat BI mengkonfirmasi Pimpinan Cabang BRI Stabat, Syamsul Azhar dikantornya, (19/9).

Syamsul yang saat itu di damping oleh Ramli dan Rahmad mengatakan, bahwa kasus ini terungkap saat nasabah akan menarik dananya, dan mengetahui bahwa uangnya tidak ada ditabungan, “kasus ini sedang di tangani Kantor wilayah, dan itu sudah BAP, dan BAP itu yang menangani adalah Kanwil, kita sudah melakukan klarifikasi, tetapi semua menyangkal”, ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Syamsul, bahwa pihaknya menemukan dari data audit suatu transaksi, kesengajaan transaksi salah prosedur, namun pihaknya belum mengetahui untuk apa transaksi tersebut,” kata mereka dari data audit, suatu transaksi kesengajaan. Sampai saat ini untuk apa, kita belum tau” ungkap Syamsul.

Sebelumnya, BI coba mengkonfirmasi Azhar Ishar, Kepala Unit BRI Sawit Seberang (11/9). Azahr dalam kasus ini diduga turut terlibat dalam pembobolan uang tabungan milik nasabah, namun Azhar enggan berkometar “ sebenarnya sya bisa memberikan keterangan pak, tapi saya saya diminta oleh Pincab jagan memberikan komentar pada siapapun” ujarnya coba menutupi.

Seperti yang disebut dalam berita acara klarifikasi,  bahwa Azhar Ishar salah satu dari enam pemegang password yang yang disebut telah dicuri oleh Aidil. Selain Azhar para pemegang password tersebut adalah ; Baymara El Barito, Rizki Wahyudi, Satria Permana, Enning Dallis dan Fina F Junita.

Sama halnya dengan Azhar Ishar, M. Nasir yang bertugas sebagai Auditor, saat dikonfirmasi Via ponsel, mengelak untuk dikonfirmasi atas hasil audit dan memaksa juga mengancam Yudi agar menyelesaikan kebocoran tabungan nasabah.

Kembali ke kantor cabang BRI Stabat, ditanya soal jumlah uang yang nasabah yang dibobol dan sanksi, proses, dan tanggungjawab pada Aidil, pinca bertubuh langsing ini mengaku tidak mengetahui seberapa besar dana yang dibobol, “berapa ya, saya lupa” celotehnya. Sementara soal sanksi yang diberikan pada Aidil di akuinya bahwa hanya memutus kontrak kerja Aidil, “ kita sudah memutus kontrak, kebetulan saat ini kasusnya sudah ditangani pihak kepolisian”.

Apa berhenti sampai pemecatan saya ? cecar BI lagi, “belum menganti uang, karena ijazahnya pada BRI, dia harus menyelesaikan kewajiban-kewajibannya baru bisa mengambil ijazah” ucapnya singkat.

Sudah Benar

Ramli mengatakan kalau apa yang sudah dilakukan pihaknya terhadap kasus ini sudah benar, dan karena atas pengakuan Aidil, walaupun Yudi tidak lagi sebagai Ka.Unit lagi di Sawit Seberang, Aidil membobol Tabungan nasabah atas perintah Yudi. “ yang dilakukan oleh Aidil atas instruksi pak Indra, Aidil mengaku seperti itu” ungkapnya yang terkesan gugup.

Sekedar menyegarkan ingatan, bobolnya uang tabungan milik nasabah di kantor Unit BRI sawit Seberang yang diduga dilakukan oleh Aidil sebelumnya sudah pernah terjadi, dan diketahui oleh Azhar Ishar selaku ka.unit, namun tidak ada proses apapun, karena Aidil sudah mengantinya sebesar Rp. 60 juta plus uang sebesar Rp. 10 kepada suami nasabah sebagai imbalan untuk tutup mulut, seperti yang tersebut dalam Berita acara klarifikasi  yang dikeluarkan oleh kantor cabang BRI Stabat yang di tandatangani oleh Pinca dan Andi Juang parangin angin selaku AMBM. Pinca juga mengaakui, bahwan Andi Juanglah yang melaporkan kasus ini pada pihak polisi atas nama cabang BRI Stabat. “Tanya ke pihak polisi suratnya, kita tidak ada arsip” katanya.

Ditanya soal surat Kepolisian Resort Langkat Sumatera Utara Surat tertanggal 8 Agustus 2014, Nomor : K/876/VII/2014/ Reskrim, Kalsifikasi : KONFIDENSIL, Lamp : – , Perihal : Permintaan Keterangan yang ditujukan kepada Pimpinan PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat. Yang memerintahkan Yudi untuk hadir di Polres Langkat pada  Hari Rabu, 13 Agustus 2014. Disebutkan si sana, salah satu dasar pemanggilan tersebut adalah rujukan surat laporan masyarakat tertanggal 8 Juli 2014.

Kepada BI, Pinca mengaku pelapornya adalah PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat nomor melalui surat yang ditandatangani oleh Andri Juang yakni : R.098-KC.II/SDM/07/2014 tertanggal 8 Juli 2014. “ya, mungkin saja polisi menganggap BRI adalah masyarakat” ujarnya terkesan pura-pura bodoh, “saya kurang tau, karena yang menangani dan mendampingi teman-teman itu kanwil” sambungnya lagi.

Dugaan Kriminalisasi

Terkait beberapa poin pada surat tuduhan PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat nomor ; R.037 KC-II/SDM/03/2014 tertanggal 12 Maret 2014 yang disampaikan kepada Yudi dan data-data yang ada pada BI terdapat kejanggalan kejanggalan yang di duga seperti dipaksakan untuk menyeret Yudi sebagai pelaku.

Dugaan tersebut adalah, dari beberapa rekening tabungan milik nasabah yang diduga dibobol oleh Aidil setelah Yudi tidak lagi bertugas di Unit BRI Sawit Seberang dan tidak ada memegang password. Dalam berita acara klarifikasi yang dikeluarkan oleh PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat disebutkan, terjadinya kebocoran password Ka. Unit/pgs. Ka.unit oleh teller dengan cara teller mengintip password yang diinput. Teller menggunakan password yang telah dicuri yang transaksinya diatas bulan Maret 2013, sementara Yudi di mutasi dari Unit Sawit Seberang ke Unit BRI Batang Serangan pada 1 Maret 2013.

Dana yang di diduga di bobol Aidil para pemegang passwordnya adalah ; M. Azhar Ishar (rekening atas nama nasabah : Misriani, Paimin, Reban), Baymara El Barito, (rekening atas nama nasabah ; Haris Purba, Usni dan R. Pakpahan), Rizki Wahyudi (rekening atas nama : Ema Sryaman), Satria Permana (rekening atas nama : Kemis), Enning Dallis (rekening atas nama : Legiman) dan Fina F Junita (rekening atas nama : Legiyem).

Dalam surat tuduhan yang ditandatangani oleh Syamsul Azhar ada disebutkan kalau Yudi melakukan pelanggaran, penyimpangan, penyalahgunaan dan merekayasa. Walau pun ada berita acara serah terima password, tetapi tetap passwordnya sudah digunakan untuk membobol duit nasabah ? mereka para oknum yang diduga mengkriminalkan Yudi sudah bertindak seperti apa terhadap para pegawai yang sengaja atau tidak passwordnya digunakan untuk membobol duit nasabah ?.

Tak sampai di situ, Yudi juga dituduh melakukan transaksi penarikan tanpa diketahui dan izin dari nasabah, namun hal tersebut dibantah oleh sang nasabah, diakui oleh nasabah, bahwa dirinya sudah mengetahui dan atas izinnya-lah Yudi melakukan transaksi penarikan. Hal ini dikatakannya saat dirinya dimintai keterangan oleh Azhar Ishar dan Nasir selaku Auditor. Namun sepertinya pembenaran nasabah ini sia-sia, dan diacuhkan, mereka tetap memberatkan Yudi dengan tuduhannya.

Aroma adanya dugaan konspirasi praktek kriminalisasi kental menyengat, seperti yang disampaikan Ramli soal semua tuduhan yang memberatkan dan di alamat ke Yudi, bahwa pihaknya tidak menggunakan hukum tuduh, tetapi menggunakan hukum praduga tidak bersalah, “tolong gunakan bahasa itu, karena kita menjaga domokrasi” tegasnya. Lantas bagaimana dengan surat yang dikeluarkan oleh  PT.BRI (Persero) Tbk. Kantor Cabang Stabat nomor ; R.025 KC-II/SDM/03/2014 tertanggal 05 Maret 2014 dan berita acara klarifikasi no. R.027 KC.II/SDM/03/2014 masih tanggal yang sama, 05 Maret 2014, ternyata tidak sesuai dengan ucapan Ramli soal pihaknya tidak menggunakan hukum tuduh. Padahal jelas disebutkan dengan gamblang seperti tanpa tedeng aling-aling pada perihal surat disebut adalah Surat Tuduhan.

Ditolak

Ironisnya lagi, seperti yang diungkapkan Yudi pada BI, saat dirinya di rumah Aidi pada 22 Januari 2013, mertua Aidil ada mengatakan pada Yudi, kalau dirinya dan Aidil pernah menemui Azhar Ishar di kantornya Unit BRI Sawit Seberang, dan  memberikan sejumlah uang sebesar Rp. 120 juta guna menutupi rekening tabungan yang dibobol menantunya, namun di tolak oleh Azhar Ishar.

Soal kedatangan mertua Aidil untuk menyerahkan uang penyelesaian ini juga disampaikan Azhar pada Yudi yang saat itu akan menyerahkan uang untuk menyelesaikan 2 rekening yang di bobol Aidil pada masa Yudi. kepada Yudi, Azhar mengaku kalau alasannya menolak menerima uang lantaran mertua Aidil meminta kwitansi tanda terima uang.

Mertua Aidil yang disebut-sebut anggota kepolisian yang bertugas di Polda saat berada di kantor unit BRI Sawit Seberang sempat mengatakan kepada pegawai BRI agar menjadi saksi anaknya, kalau anaknya melakukan pembobolan uang rekening atas perintah Yudi, “kalian nanti jadi saksi ya, kalau Adil mengambil duit disuruh Yudi” ujar Yudi menirukan ucapan mertua Aidil.

Menghilangkan BB

Seperti yang di ungkapkan Yudi, Azhar Ishar pernah mendatangi rumah salah seorang nasabah untuk mengambil dan menukar buku tabungan yang diketahuinya ada tulisan tangan (manual) saldo terakhir simpanan nasabah pada buku tabungan nasabah ? hal ini diungkap Yudi pada BI, bahwa dirinya mengetahui dari informasi nasabah kepada Yudi. apakah mereka yang berwenang sudah bertindak terhadap Azhar sang kepala unit yang diduga sengaja menghilangkan barang bukti ?

Bahkan dugaan upaya menghilangkan barang bukti yang dilakukan oknum yang diduga terlibat juga terlihat, adanya  saldo kosong pada beberapa Trans Description rekening milik nasabah, diantara rekening ini pemegang passwordnya adalah Azhar Ishar.

Masih penuturan Yudi, salah seorang nasabah yang berdomisili dekat dengan kediaman orangtuannya. Nasabah itu berniat untuk meminjam dana di BRI, namun saat dirumahnya ia didatangi oleh oknum pegawai BRI, yang mengintrogasi ingin mengetahui bahwa benar pinjaman tersebut bukan untuk Yudi, hingga akhirnya nasabah itu membuat surat pernyataan, bahwa pinjaman tersebut benar untuk keperluan sang nasabah. Padahal menurut Yudi, nasabah tersebut ingin melanjutkan pinjaman, bukan pinjaman baru.

Menurut data dan keterangan Yudi, dari beberapa rekening yang dibobol, diantaranya ada 2 rekening yang dibobol ada pada masa Yudi menjabat sebagai Ka.unit BRI Sawit seberang, namun anehnya, duit untuk 2 rekening yang bocor yang dituduhkan pada masa Yudi malah untuk menutup kebocoran rekening yang di bobol pada masa Azhar Ishar.

Sementara, soal pemberian bingkisan yang pernah diberi ke oknum anggota Polres Langkat yang sedang menangani kasus ini, yang pernah berkunjung ke kantor cabang BRI Stabat, Pinca enggan berkomentar. Namun hal ini buru-buru dibantah Ramli, kalau itu bukanlah bentuk gratifikasi, tetapi pemberian kepada nasabah “itu bukanlah gratifikasi, kebetulan mereka juga adalah nasabah kita” bantahnya

Sebelumnya, Yudi juga ada melayangkan surat pembelaan yakni testimony yang di tujukan kepada Pinca BRI Stabat, Kantor Inspektorat BRI, bahkan pada 25 Maret 2014 silam surat yang sama juga di sampaikan untuk pimpinan wilayah  BRI, namun sia-sia, sampai saat ini pihak belum ada memberikan tanggapan apapun kepada dirinya.

Saat BI ingin mengkonfirmasi pimpinan wilayah, Eben Nezer Girsang pada Rabu, (24/9) Pinwil tidak berada di kantornya yang di bilangan jalan Putri Hijau Medan. Begitu juga saat dihubungi via ponsel wakil Pinwil, Prasetyo enggan mengangkat ponsel dan menjawab pesan singkat BI.

Terkait adanya dugaan kriminalisasi dengan cara menuduh dan menzholimi dirinya, Yudi berniat akan mengadu dan menyampaikan aspirasinya ke DPRD.

Gung/rif/SB

Kambing Hitam dan Pembobol Rekening Nasabah BRI

Untitled

Medan : Sepertinya upaya mengkriminalisasi seseorang adalah salah satu cara yang ampuh bagi mereka yang ingin melibas jatuh lawannya yang dianggap bisa mengancam posisi mereka. Upaya yang dilakukanpun pun cenderung licik dan penuh dengan intrik hingga tidak berfikir apa yang mereka lakukan tak beda dengan fitnah dan menzolimin.

Setidaknya hal tersebut dialami oleh Yudi (39) salah seorang pegawai bank plat merah di Stabat Kabupaten Langkat yang tiga kali berturut-turut pernah mendapat predikat sangat baik oleh BRI.

Sebelumnya Yudi pernah bertugas di kantor unit BRI Sawit Seberang dan Batang Serangan. Di dua unit tersebut Yudi menjabat sebagai kepala unit.

Sejak 18 Januari 2010 sampai 28 Februari 2013 Yudi menjabat kepala kantor di BRI Unit Sawit Seberang dan pada 20 Februari 2013 di mutasi ke BRI Unit Batang Serangan masih sebagai kepala kantor. Sedangkan posisinya di BRI Unit Sawit Seberang digantikan oleh rekannya, M. Azhar Ishar. Kemudian, 27 Januari 2014 Yudi di instruksikan penugasan khusus di Kanca BRI Stabat.

Seperti yang disampaikan Yudi dan data-data yang ada, dugaan adanya konspirasi upaya kriminalisasi para mereka oknum ini berawal dengan tuduhan yang dialamatkan ke Yudi soal adanya temuan Fraud (Kesalahan) pada data di komputer, yakni bobolnya uang di rekening tabungan milik nasabah.

Medio akhir Desember 2013, Azhar menghubungi Yudi, menyampaikan bahwa petugas tellernya, Aidil Fajar diketahui telah melakukan fraud yakni melakukan penarikan dana rekening tabungan nasabah tanpa sepengetahuan pemiliknya. Menurut .Azhar, hal ini diketahui saat pemilik menarik dana rekening tabungannya.

Azhar meminta saran pada Yudi, perihal tindakan apa sebaiknya yang harus dilakukannya, karena Yudi dianggap adalah mantan pimpinan si Teller. Yudi pun menyarankan agar Azhar mengambil tindakan tegas kepada tellernya itu. Oleh Azhar, Aidil pun tidak lagi ditugaskan sebagai teller.

Beberapa hari kemudian, Aidil pegawai kontrak ini menghubungi Yudi via ponselnya, menyampaikan penyesalan atas perbuatan Fraud (Kesalahan) yang dilakukannya, dan memohon untuk dapat bertemu, untuk berkonsultasi mengatasi masalahnya. Mendegar penuturan dan pengakuan Aidil, dan mengingat bahwa dirinya adalah bekas atasannya, Yudi pun merasa iba, dan mengamini permintaan Aidil untuk bertemu di seputaran Karang Rejo, yang saat itu Yudi berada di rumah tantenya.

Tanpa ada rasa malu lagi, dihadapan keluarga Yudi yang turut dalam pertemuan tersebut, Aidil kembali mengungkapkan pengakuan dan penyesalannya, telah mengambil uang milik nasabah, dan meminta saran, apa yang harus diperbuatnya. Yudi pun menyarankan, agar Aidil segera menyelesaikan dan menutup uang nasabah yang telah diambilnya, dan menceritakan ke orang tua dan keluarganya untuk solusi yang dihadapinya.

Namun Aidil enggan dan keberatan, karena dalam beberapa bulan terakhir hubungan Aidil orang orangtuanya tidak harmonis. Kembali, dengan memelas Aidil mengaku tidak memiliki uang, terlebih sejak hari itu dirinya tidak lagi bertugas sebagai teller. Menurut Yudi pengakuan Aidil ini terkesan bernada memohon agar dirinya bisa melobi Azhar agar Aidil dapat ditugaskan kembali sebagai teller. Pada Yudi Aidil pun mengaku kalau dia memilik rumah di Komp. Jati Bening Binjai yang belum ditempatinya dan berniat  menjualnya seharga Rp.300 juta.

Masih penuturan Yudi, pada Kamis, 16 Januari 2014 Yudi kembali dihubungi Azhar via ponsel yang menyebutkan bahwa kasus serupa yang dilakukan Aidil Fajar kembali terungkap, dimana saldo rekening dua nasabah ditemukan tidak sesuai antara buku tabungan dengan saldo yang terdapat di sistim Brinets / Komputer.

Diungkapkan Azhar, jumlah perbedaan tersebut sebesar Rp.120 juta masing-masing Rp. 80.000.000 dan Rp. 40.000.000. Azhar pun mendesak Yudi untuk menyelesaikan kedua rekening tersebut, sebab katanya perbuatan yang dilakukan Aidil pada Yudi menjabat Kepala BRI Unit Sawit Seberang. Hal senada juga dikatakan oleh Nasir selaku Penilik RAU (Resident Auditor Unit/ red).

Namun Permintaan mereka saya tolak, bagaimana tidak, yang melakukan bukan saya, tetapi mengapa harus saya yang harus didesak untuk mempertanggungjawabakannya. Padahal mereka taukalau Aidil lah yang berbuat. Lagi pula mengapa Aidil tidak diproses dan tidak diminta bertanggung jawab.

Beberapa hari kemudian, pada Senin, 20 Januari 2014, kembali Azhar menghubungi Yudi dan mengungkapkan hal yang sama, yakni Aidil diketahui lagi telah membobol rekening nasabaha sebesar Rp. 70.000.000. menurut Azhar, hal ini terungkap pada saat nasabah akan melakukan penarikan saldonya. Azhar dan Nasir pun kembali mendesak pertanggungjawaban Yudi. Nasir mengancam, jika tidak di pertanggungjawaban maka dirinya akan dilaporkan dan akan di pecat.

Mengingat sebagai pimpinan dimasa itu, dan menjaga image nama baik BRI, dengan berat hati Yudi mencoba mengganti kebocoran rekening tabungan tersebut. dengan pinjaman dari mertuanya Yudi cuma bisa memperoleh uang sebesar Rp.40 juta. Kemudian uang tersebut di transfer melalui rekening tabungan Baymara El Barito dua kali penyetoran, masing-masing Rp.33.000.000 dan Rp.7.000.000.

Ternyata permasalahan tidak berhenti sampai disitu, waktu yang sama, usai menyetor uang, Yudi dihubungi oleh Nasir dengan nada menekan dengan ultimatumnya mendesak agar Yudi segera menyelesaikan rekening tabungan yang bobol sebesar Rp.120 juta yang sebelumnya tidak diselesaikannya. Ancamannya, jika sampai tanggal 22 Januari 2014 tidak menyelesaikannya maka saya akan dilaporkan kepada manajemen BRI dan akan di PHK. Ujar Yudi mencontohkan ucapan Nasir. menurut Yudi, pernyataan desakan Nasir sebagai auditor yang begitu getol memaksa Yudi membuat dirinya bingung.

Esoknya via selular, Aidil dihubungi Yudi, kembali memelas dan berjanji membayarkan uang sesuai permintaan Azhar Ishar dan Nasir sebesar Rp120 juta, namun sebelumnya meminta tolong kepada Yudi untuk membantunya mencarikan pinjaman. Entah mengapa, Yudi pun menurut permintaan Aidil untuk membantunya mencarikan pinjaman.

Yudi mencoba memberikan solusi bahwa ada temannya salah satu pengusaha di Binjai yang mungkin bisa memberikan pinjaman. Pada pengusaha tersebut, Aidil menceritakan dan mengakui bahwa dirinya ada mengambil uang tabungan nasabah dan membutuhkan pinjaman Rp. 300.000.000 untuk menutupi rekening tabungan nasabah. Aidil pun memohon pinjaman yang mendesak Rp. 120.000.000.

Namun pengusaha tersebut menolak membantu Aidil, karena mobil Honda Fredd yang baru dibeli Aidil pada bulan Juli 2013 lalu yang akan dijadikan sebagai jaminan tidak memiliki buku BPKB.Pengakuan Aidil BPKB belum keluar dari Ditlantas.

Saat Yudi menemui orang tua Aidil untuk memperoleh solusi, Yudi pun menceritakan apa yang dilakukan oleh anaknya. Orang tua Aidil membenarkan kalau hubungan mereka sudah tidak harmonis lagi. Dia juga mengungkapkan, sejak lama sudah mempunyai berfirasat tidak baik dan curiga akan terjadi hal seperti ini, dia menilai gaya hidup anak dan Istri nya sudah berkelebihan bila dibandingkan dengan penghasilannya sebagai Teller, dia merasa tidak mungkin.

Malam harinya, Yudi dihubungi oleh Mirhan¸ abang kandung Aidil, Mirhan atas nama keluarga berjanji untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan besok hari. Esoknya, (22/1) sore, Yudi kembali dihubungi pihak keluarga Adil, untuk bertemu dirumahnya di Marelan untuk membicarakan hal tersebut secara kekeluargaan, dalam pertemuan tersebut akhirnya disepakati kalau besok masalah Aidil akan diselesaikan. Namun ternyata apa yang di sepakati tak kunjung ada penyelesaian, sementara Yudi terus mendapat tekan dari Azhar Ishar dan Nasir agar segera menyelesaikan uang nasabah.

Disetor Ke Rekening Lain

Tak tahan mendapat tekanan, terlebih lagi kesepatakan tak kunjung ditepati, akhirnya Yudi pun memberanikan diri menjumpai mertuanya meminta membantunya untuk mencarikan pinjaman. Tak lelah, kesana kemari, akhirnya mereka berhasil mendapat pinjaman Rp.100 juta. Kemudian, Yudi dan mertuanya sore itu juga, ke BRI Unit Sawit Seberang untuk menyetorkannya. Uang tersebut pun diterima langsung oleh Azhar Ishar kemudian disetorkan ke tiga rekening masing-masing atas nama EM Rp.40 Juta, Ram Rp.40 juta dan ke rekening titipan BRI unit Sawit Seberang Rp. 20 juta.

Namun belakangan, sesuai dengan data yang ada pada Yudi, diketahui, uang yang pernah disetor, oleh Azhar ternyata tidak untuk menutupi ke dua rekening yang pernah dikatakan Azhar, malah di setor untuk menutupi rekening nasabah lain yang dibobol setelah Yudi pindah dari unit BRI Sawit Seberang, tetapi saat Azhar Ishar masih menjabat kepala kantor BRI Unit Sawit Seberang.

Menurut data yang diperoleh, dari ke 13 dana rekening yang ada di tabungan yang diduga dibobol Aidil diketahui hanya 2 rekening semasa Yudi menjabat, sisanya 11 rekening lagi adalah saat Azhar masih menjabat sebagai kepala kantor BRI Unit Sawit Seberang. Mengetahui semua itu, Yudi menyadari kalau dirinya sudah peras dan dizholimi.

Yudi mendapat surat panggilan oleh pihak Polres Langkat bernomor : K/876/VII/2014/Reskrim, Klasifikasi : Konfidensil, Perihal : Permintaan Keterangan. Yudi mengaku dirinya menolak menandatangani hasil keterangannya yang di minta oleh polisi, karena dalam surat itu tersebut di dirinya sebagai tersangka, hingga akhirnya Yudi pun menyampaikan pengaduan ke Kadiv Propam Mabes Polri di Jakarta.

Dari penuturan dan ungkapan Yudi pada BI dugaan adanya, konspirasi bahkan upaya kriminalisasi para oknum tercium, indikasinya, Aidil yang di diduga sebagai pelaku sampai kini belum tersentuh oleh pihak yang berwenang, begitu pula oknum yang diduga terlibat belum pernah di proses sesuai dengan peraturan yang ada.

Gung/rif/SB